Kuis di Facebook Diduga Jadi Sumber Kebocoran Data Pengguna
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/1928717/original/026090400_1519375749-1.jpg)
Isu
keamanan kembali menerjang Facebook terkait
keamanan data. Kali ini, terkait isu pencurian data yang memanfaatkan kuis-kuis
yang biasa ada di Facebook, seperti mengetahui jodoh, rezeki, termasuk tujuan
wisata.
Terbaru, kuis-kuis semacam itu
ternyata memiliki masalah keamanan data. Salah satunya ditujukan pada
Cambridge Analytica perusahaan data asal Inggris yang dituding mengeksploitasi
data 50 juta pengguna Facebook.
Polemik mengenai kuis yang
beredar di Facebook memang sudah
sejak lama disebut bermasalah. Alasannya, sejumlah kuis Facebook dipakai
mengecoh orang-orang untuk mendapatkan informasi pribadi mereka dan
menghasilkan uang dari hal itu.
Informasi itu diungkapkan oleh
Managing Director Keamanan Siber di Florida Center, Sri Sridharan. Menurutnya,
kuis semacam ini kelihatannya memang tak berbahaya, tapi tak pernah diketahui
siapa yang sebenarnya meminta informasi tersebut.
Dikutip dari Inquirer, Selasa
(20/3/2018), hacker kerap memakai kuis semacam ini
untuk menutup linkberbahaya yang bisa digunakan untuk
membobol keamanan online. Terlebih,
kuis-kuis tersebut memang disediakan oleh pihak ketiga.
"Semakin banyak yang
mereka tahu tentang Anda, semakin banyak juga cara yang digunakan untuk
mengecoh Anda melakukan sesuatu seperti mengklik link yang seharusnya
tidak boleh Anda klik," tuturnya.
Mengingat banyak kuis yang
membahayakan data pribadi, ia pun menyarankan agar pengguna hanya mengikuti
kuis dari situs web terpercaya. Pengguna juga diminta
waspada jika mengikuti kuis atau jajak pendapat yang mengharuskan login ke
akun Facebook.
Masalah
keamanan ini juga dilaporkan oleh peneliti Aleksandr Kogan yang membuat
aplikasi thisisyourdigitallife.
Ia pun menyediakan kuis dengan syarat login dengan akun
Facebook.
Ternyata, hal itu menciptakan
celah kepada si pembuat kuis untuk melihat sebagian data-data yang dimiliki
pengguna di Facebook, seperti identitas dan hal-hal yang kamu like.
Data-data itu dikhawatirkan
dipakai untuk kepentingan si pengambil data. Kogan yang seorang akademisi
mengaku ke Facebook kalau ia hanya melakukannya untuk tujuan penelitian.
Namun, menurut laporan terbaru,
Kogan ternyata membagikan hasilnya ke Cambridge Analytica. Facebook bersikeras
kalau pihaknya juga telah dibohongi oleh pembuat aplikasi.
"Si peneliti yang
dipertanyakan, Aleksandr Kogan, menarik beberapa ratus ribu individual untuk
menggunakan login Facebook ke kuis kepribadiannya
pada 2014. Ia berbohong kepada para pengguna dan berbohong pada Facebook
perihal apa yang ia gunakan dengan data-data itu," ucap Alex Stamos, Chief
Security Officer di Facebook.
Cambridge
Analytica (CA) sendiri dilaporkan terlibat dalam skandal besar kebocoran data
puluhan juta pengguna Facebook.
Perusahaan yang pernah bekerja
dengan tim kampanye Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, itu dituding
menggunakan jutaan data untuk membuat sebuah program software yang hebat
sehingga bisa memprediksi dan memengaruhi pemilihan suara.
Dilansir The
Guardian, Selasa (20/3/2018), seorang whistleblower bernama
Christopher Wylie, mengungkapkan kepada Observer The
Guardian, bagaimana CA menggunakan informasi personal diambil tanpa
izin pada awal 2014 untuk membangun sebuah sistem yang dapat menghasilkan
profil pemilih individual AS.
Hal ini dilakukan untuk
menargetkan mereka dengan iklan politik yang telah dipersonalisasi. CA sendiri
merupakan perusahaan yang dimiliki oleh miliarder Robert Mercer dan pada saat
itu dipimpin oleh penasihat utama Trump, Steve Bannon.
"Kami mengekspolitasi
Facebook dan "memanen" jutaan profil orang-orang. Kami membuat
berbagai model untuk mengeksploitasi apa yang kami tahu tentang mereka dan
menargetkan 'isi hati' mereka. Itulah dasar keseluruhan perusahaan
dibangun," ungkap Wylie.
Dokumen yang dilihat Observer dan
dikonfirmasi oleh pernyataan Facebook, menunjukkan bahwa perusahaan pada
akhir 2015 mengetahui ada kebocoran data yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, Facebook saat itu gagal
memperingatkan para pengguna, kemudian hanya melakukan sedikit upaya untuk
memulihkan dan mengamankan informasi lebih dari 50 juta penggunanya.
Menurut laporan New
York Times, salinan pengambilan data untuk CA masih bisa
ditemukan di internet. Tim media tersebut, juga dilaporkan melihat beberapa
data mentah.
Seluruh data dikumpulkan
melalui sebuah aplikasi bernama thisisyourdigitallife,
yang dibuat oleh akademisi Aleksander Kogan, terpisah dari pekerjaannya di
Cambridge University.
https://www.liputan6.com/tekno/read/3391051/kuis-di-facebook-diduga-jadi-sumber-kebocoran-data-pengguna
Comments
Post a Comment