KASUS PRITA MULYASARI dengan RS. OMNI INTERNASIONAL Keangkuhan vs Keanggunan
Kasus
ini bermula saat Prita Muyasari wanita kelahiran 27 maret 1977 ini memeriksakan
kesehatannya pada tanggal 07 Agustus 2008 di RS Internasional Omni tangerang
atas keluhan demam, sakit kepala, mual disertai muntah, kesulitan BAB, sakit
tenggorokan, hingga hilangnya nafsu makan. Oleh dokter rumah sakit, dr. Hengky
Gosal, Sp.PD dan dr. Grace Herza Yarlen Nela, Prita didiagnosis menderita Demam
Berdarah atau Tifus. Setelah dirawat selama empat hari disertai serangkaian
pemeriksaan serta perawatan, gejala awal yang dikeluhkan berkurang namun
ditemukan sejenis virus yang menyebabkan pembengkakan pada leher. Selama masa
perawaran Prita mengeluhkan minimnya penjelasan yang diberikan oleh dokter atas
jenis-jenis terapi medis yang diberikan, di samping kondisi kesehatan yang
semakin memmmburuk yang diduga akibat kesalahan dalam pemeriksaan hasil
laboratorium awal menyebabkan kekeliruan diagnosis oleh dokter pemeriksa.
Disebabkan karena pengaduan serta permintaan tertulis untuk mendapatkan rekam
medis serta hasil laboratorium awal yang tidak dapat dipenuhi oleh pihak rumah
sakit Prita kemudian menulis surat elektronik tentang tanggapan serta keluhan
atas perakuan yang diterimanya ke sebuah milis. Surat elektronik tersebut
kemudian menyebar luas sehingga membuat pihak rumah sakut merasa harus membuat
bantahan atas tuduhan yang dilontarkan oleh Prita ke media cetak serta
mengajukan gugatan hukuman baik secara perdata maupun pidana dengan tuduhan
pencemaran nama baik.
Pada Tanggal 11 Mei 2009 Pengadilan
Negeri Tangerang memenangkan gugatan perdata pihak rmah sakit dengan menyatakan
Prita terbukti melakukan perbuatan yang merugikan pihak rumah sakit sehingga
harus membayar kerugian material sebesar Rp 161 juta sebagai pengganti uang
klarifikasi di Koran nasionall dan Rp 100 juta untuk kerugian immaterial. Pada
tanggal 13 Mei 2009 oleh Kejaksaan Negeri Tangerang Prita dijerat dengan pasal
310 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 27 Aya 3 Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta
dinyatakan harus ditahan karena dikhawatirkan akan melarikan diri serta
menghilangkan barang bukti. Pada tanggal 3 Juni 2009 Prita dibebaskan dari LP
Wanita Tangerang dan status tahanan diubah menjadi tahanan kora. Kemudian pasa
tanggal 11 Juni 2009 Pengadian Negeri Tangerang mencabut status tahanan kota.
Melalui
persidangan yang dilakukan di Pengadilan Negeru Tangerang tanggal 25 Juni 2009,
Majelis haim menilai bahwa dakwaan jaksa penuntut umum atas kasus Prita
Mulyasari tidak jelas, keliru dalam penerapan hokum, dan tidak memenuhi syarat
sesuai dengan ketentuan Pasal 143 ayat 2 huruf b KUHAP, oleh karenanya melalui
persidangan tersebut kasus Prita akhirnya dibatalkan demi hokum.
Majelis
hakim Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita Mulyasari tidak terbukti
secara sah melakukan pencemaran nama baik terhadap Rumah Sakir Omni
International Alam Sutera Serpong Tangerang Selatan, Selasa (29/12/2009).
Keputusan itu dibacakan majeli hakim yang diketuai Arthur Hangewa.
ISI BANTAHAN YANG DIMUAT DI HARIAN
KOMPAS DAN MEDIA INDONESIA (2008):
PENGUMUMAN & BANTAHAN
Kami, RISMA SITUMORANG, HERIBERTUS
& PARTNERS, Advokat dan Konsultan HKI, berkantor di Jalan Antara No. 45A
Pasar Baru, Jakarta Pusat, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama OMNI
INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA, Dr. HENGKY GOSAL, SpPD dan Dr. GRACE HILZA
YARLEN. N; Sehubungan dengan adanya surat elektronik (e-mail) terbuka dari
SAUDARI PRITA MULYASARI beralamat di Villa Melati Mas Residence Blok C 3/13
Serpong Tangerang (mail from: prita.mulyasari@yahoo.com) kepada customer_care
@banksinarmas.com, dan telah disebar-luaskan ke berbagai alamat email lainnya,
dengan judul ‘PENIPUAN OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA TANGERANG’;
Dengan ini kami mengumumkan dan memberitahukan kepada khalayak umum/masyarakat
dan pihak ketiga, ‘BANTAHAN kami’ atas surat terbuka tersebut sebagai berikut
:
- BAHWA ISI SURAT ELEKTRONIK (E-MAIL) TERBUKA TERSEBUT TIDAK BENAR SERTA TIDAK SESUAI DENGAN FAKTA YANG SEBENARNYA TERJADI (TIDAK ADA PENYIMPANGAN DALAM SOP DAN ETIK), SEHINGGA ISI SURAT TERSEBUT TELAH MENYESATKAN KEPADA PARA PEMBACA KHUSUSNYA PASIEN, DOKTER, RELASI OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA, RELASI Dr. HENGKY GOSAL, SpPD, DAN RELASI Dr. GRACE HILZA YARLEN. N, SERTA MASYARAKAT LUAS BAIK DI DALAM MAUPUN DI LUAR NEGERI.
- BAHWA TINDAKAN SAUDARI PRITA MULYASARI YANG TIDAK BERTANGGUNG-JAWAB TERSEBUT TELAH MENCEMARKAN NAMA BAIK OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA, Dr. HENGKY GOSAL, SpPD, dan Dr. GRACE HILZA YARLEN. N, SERTA MENIMBULKAN KERUGIAN BAIK MATERIL MAUPUN IMMATERIL BAGI KLIEN KAMI.
- BAHWA ATAS TUDUHAN YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DAN TIDAK BERDASAR HUKUM TERSEBUT, KLIEN KAMI SAAT INI AKAN MELAKUKAN UPAYA HUKUM TERHADAP SAUDARI PRITA MULYASARI BAIK SECARA HUKUM PIDANA MAUPUN SECARA HUKUM PERDATA.
Demikian PENGUMUMAN & BANTAHAN
ini disampaikan kepada khalayak ramai untuk tidak terkecoh dan tidak
terpengaruh dengan berita yang tidak berdasar fakta/tidak benar dan berisi kebohongan
tersebut.
sumber : https://news.detik.com/berita/2023887/ini-dia-kronologi-prita-mencari-keadilan , https://www.kompasiana.com/iskandarjet/kronologi-kasus-prita-mulyasari_54fd5ee9a33311021750fb34
sumber : https://news.detik.com/berita/2023887/ini-dia-kronologi-prita-mencari-keadilan , https://www.kompasiana.com/iskandarjet/kronologi-kasus-prita-mulyasari_54fd5ee9a33311021750fb34
Comments
Post a Comment