Kejahatan “Skimming” ATM dan Keterlibatan Warga Negara Asing
Selasa,
20 Maret 2018 | 10:05 WIB
Jakarta,
KOMPAS.com
Polisi
beberapa kali menangkap tersangka kejahatan skimming pada mesin anjungan tunai
mandiri (ATM).
Skimming
merupakan tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan menyalin
informasi yang terdapat pada strip magnetic kartu kredit atau debit secara
illegal.
Modus
yang digunakan antara lain menggunakan WiFi pocket router disertai kamera yang
dimodifikasi menyerupai penutup PIN pada mesin-mesin ATM untuk mencuri PIN
nasabah.
Melalui
alat tersebut, para pelaku menduplikasi data magnetic stripe pada kartu ATM
lalu mengkloningnya ke kartu ATM kosong.
Terakhir,
kepolisian Polda Metro Jaya menangkap Baltov Kaloyan Vasilev, warga negara Bulgaria,
di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Polisi
juga menanggkap komplotan pembobol uang nasabah bank yang benama Caitanovici
Andrean Stepan, Raul Kalai, dan Ionel Robert Lupu asal Romania, serta Ferenc
Hugyec dari Hongaria.
Satu
orang lagi yang ditangkap yakni Milah Karmilah, warga negara Indonesia yang
turut membantu aksi para tersangka.
Kabid
Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut skimming sebagai bentuk
“penjajahan” warga asing di Indonesia. Oleh karena itu, polisi terus menangkap
para pelaku kejahatan tersebut.
“ini
tidak bosan-bosannya ya tersangka dari luar negeri yang ke Indonesia, Jadi,
jangan sampai negara kita nanti akan ‘dijajah’ oleh para penikmat ini yang
melakukan tindak pidana di Indonesia,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (17/3/2018)
Selain
pelaku kejahatan skimming asal Bullgaria, Romania, dan Hongaria, polisi mengaku
pernah menangkap warga negara Slovenia dan Kroasia yang melakukan tindak pidana
serupa.
Pelaku
kejahatan skimming dijerat dengan Pasal 263 KUHP, 363 KUHP, Pasal 46
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi dan Transaksi Elektronik,
dan Pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang.
Tak
Hanya di Indonesia
Argo
menyampaikan, komplotan pembobol uang nasabah tak hanya membobol satu bank, Ada
64 bank di Indonesia dan luar negeri yang juga mereka bobol dengan skimming.
“ini
ada 64 bank di dalam negeri dan luar negeri yang menjadi korban,” kata Argo.
Sejumlah
bank yang dibobol tersebar di Australia, Jerman, Amerika Serikat, Inggris,
Kamada, Perancis, Swiss, Denmark, Italia, dan negara-negara di Asia. Mayoritas
korban yang uangnya dibobol ada di Indonesia.
Menurut
Argo, sudah milyaran rupiah yang dibobol para pelaku. Namun, belum ada jumlah
pasti berapa total kerugiannya.
Direktur
Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengatakan, para
pelaku menggunakan alat-alat yang dibeli dari Eropa Timur untuk melakukan
skimming.
Mereka
hanya membutuhkan waktu 5-10 menit untuk memasang skimmer tersebut pada mesin ATM.
Ditukar
ke bitcoin
Menurut
Nico, komplotan pebobol uang nasabah bank itu menukarkan hasil curiannya ke maa
uang virtual bitcoin. Tujuannya, menyulitkan penyidikan polisi.
“ada
yang sebagian dipindahkan ke bitcoin untuk memperslit penyisikan yang dilakukan
oleh Polri”, ujar Nico.
Penyidik
masih terus mendalami soal penukaran uang ke bitcoin itu. Polisi bekerjasama
dengan sejumlah pihak yang memiliki otoritas, seperti Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), Bank Indonesia (BI), dan perbankan.
Nico
menyampaikan, para pelaku jarang mengambil uang yang mereka bobol secara tunai.
Uang hasil pembobolan itu biasanya ditransfer ke rekening lain. Para pelaku
hanya mencairkan uang tunai untuk keperluan sehari-hari mereka.
Dorong
bank gunakan “chip”
Polisi
dan Deputi Direktur Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Eva Adelia
mendorong semua bank untuk meningkatkan pengamanan kartu debit dan kredit.
Pengamanan
tersebut dilakukan dengan memasang teknologi chip, terutama di kartu ATM, yang
selama ini menggunakan magnetic stripe (pita magnetic).
Hal
ini diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya pembobolan uang nasabah dengan
metode skimming.
“Teknologi
chip itu sulit dilakukan pemalsuan terhadap data yang ada. Kami senantiasa
masuk ke perbankan memastikan bahwa sistem yang ada di perbankan itu mampu
untuk menangkal kegiatan-kegiatan yang merugikan masyarakat,” kata Eva.
Ia
juga meminta semua perbankan menggencarkan edukasi soal bertransaksi yang aman
menggunakan mesin ATM untuk nasabah mereka.
Selain
hal tersebut, Eva mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati saat melakukan
transaksi di mesin ATM. Saat
memencet pin, sebaiknya ditutupi tangan.
sumber : https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/20/10055211/kejahatan-skimming-atm-dan-keterlibatan-warga-negara-asing
sumber : https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/20/10055211/kejahatan-skimming-atm-dan-keterlibatan-warga-negara-asing
Comments
Post a Comment